Wishes.

Rabu, 31 Desember 2014

Dear my blog,

I miss post something here.
Next year I'll post a lot, hopefully.

10 Ways to Love English

Kamis, 09 Oktober 2014


English as we know is the basic language that used around the world. Business field, internet, textbooks and reference for school or college, even life-style nowadays are influenced by English. Therefore, if we can not keep up and go with the development of current condition we will be left behind.
English is difficult and not interested for Indonesian students because it is not their mother language. They are not used to use it because of the neighborhood and their daily activities do not support the using of English language. In usual, grammar and vocabulary are the problems when study English. Students are often confused and mess in structuring the right or appropriate words.
The main problem is mostly students are difficult to love English, even it can be said that they hate learning English. Therefore, here are some tips how to love English and how to learn it in a joyful way.

Tontonan Rakyat Tengah Malam (Sidang Paripurna 01 Oktober 2014)

Rabu, 01 Oktober 2014



Tengah malam, lihat acara televisi
Entah apa yang dilakukan para orang cerdik itu.
Cerdik? Ya, kata itu lebih tepat dibandingkan dengan menyebut mereka pintar.
Pintar itu berilmu.
Yang ini cerdik seperti tikus, seperti sebutan mereka Si Poli-tikus.
Singkat cerita, tikus akan mencari celah kemanapun untuk mengisi perutnya,
bahkan harus secara kotor dengan melewati gorong-gorong atau mengais tempat sampah.

Tengah malam, sulit sekali untuk tidur.
Acara televisi semakin seru.
Terlalu bodohnya saya, saya tidak paham dengan tontonan yang mereka suguhkan.
Tidak paham pula apa yang mereka ributkan.
Bukannya hasil akhirnya sudah jelas? Mengapa harus ada drama?
Seringkali saya menonton film, umumnya sekumpulan orang bodoh akan memilih pimpinan terbodoh. Sekumpulan orang licik ya akan memiliki pimpinan terlicik.


Takdir Manusia

Jumat, 08 Agustus 2014

Hei, kamu!
Ya, kamu!
Kau mau lari kemana lagi?
Kau mau lari dengan apa lagi?
Lari dengan uangmu?
Lari dengan jabatanmu?
Tidakkah kau paham? Kau sudah tidak bisa lari lagi.

Saudaramu? Peduli apa mereka dengan keadaanmu.
Temanmu? Huh, tidak jauh berbeda dengan saudaramu yang berbagi darah denganmu.
Cukup dengan ucapan belasungkawa, kehidupan mereka dengan segera kembali normal.

Kau pikir siapa lagi yang akan berbelas kasihan?
Kau ingin memohon belas kasihan kepada siapa?

Jangan pernah kau anggap orangtuamu bisa menolongmu.

Tuhanmu? Yang tidak pernah sekalipun terlintas hadir di duniamu?
Tuhanmu? Yang dilupakan karena kesibukanmu dengan segala urusanmu? Urusan yang katamu manusiawi itu.
Tuhanmu? Yang segala larangannya kamu lakukan tanpa merasa berdosa.
Tuhanmu? Yang tidak pernah kau bersimpuh memohon ampunan-Nya.

Hei, kamu!
Ya, kamu!

Kapan kau sadar bahwa kau tidak bisa lari dari takdir?

-Keke

Menjadi Dewasa di Kota Penuh Kemunafikan

Jumat, 16 Mei 2014

Kota yang tenang, rutinitas yang sama, tidak pernah bergejolak, kehidupan yang monoton.
Keluarga – keluarga yang harmonis. Semua keluarga yang hidup dengan kepura-puraan.
Satu dan lainnya saling menikam dari belakang.

Tidak ada yang salah karena tidak pernah menunjukkan kebencian.
Kebencian yang selalu dilapisi dengan keramahan.
Kebencian yang selalu dilumuri cairan senyum dan tawa palsu.

Terlalu banyak adat, terlalu banyak peraturan yang harus dipatuhi oleh warga kota.
Terlalu banyak mitos yang menakuti warga tanpa adanya pembuktian yang nyata akan hal tersebut.

Jaman Edan, Posting, dan Pamer..

Senin, 12 Mei 2014

"Lo liat status dia ga? Iya, di path-nya sama facebook-nya. Sumpah yaa, hedon banget"

Obrolan tersebut seringkali gue denger di angkot, busway, tempat makan, bahkan toilet bioskop.

"Bentar - bentar foto dulu makanannya, jangan dimakan dulu. (Panggil pelayan resto) Mas, bisa tolong fotoin gaaa..."

Yang kayak gitu hobi banget dilakuin orang - orang jaman sekarang.

Dunia sudah semakin tua ternyata, penduduknya semakin riya.

Keke

Fatamorgana

Senin, 05 Mei 2014

Malamku selalu kamu
Mimpiku itu kamu
Namun ternyata itu hatiku yang terbelenggu
Terbelenggu dari ketidakhadiranmu

Terbitnya matahari bukanlah harapanku
Hilangnya bulan berarti lenyapnya dirimu
Kamu dan kehangatanmu
Yang tersisa hanyalah kamu dan kesinisanmu
Aku sadar tidak seharusnya bangun dari tidur lelapku

Keke
Friday, May 2nd 2014

Indonesia krisis pemimpin

Jumat, 14 Maret 2014

Baru saja salah satu partai yang maju pemilu 2014 mendeklarasi Capres yang diusung mereka. Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, yang masih dalam masa kerja sebagai gubernur akhirnya diusung partai menjadi capres.
Saya menonton deklarasi melalui televisi berdua dengan ayah, selanjutnya percakapan aneh terjadi.
(perlu dimaklumi dan digarisbawahi,boleh pun dianggap saya awam tentang dunia per-politik-an)

Saya : PDIP kayaknya salah langkah deh kalo mencalonkan Jokowi di pemilu sekarang

Ayah : salah kenapa..?

Saya : Ya gak pas aja, kesannya terburu-buru kalo Jokowi dicalonin jadi Capres.

Ayah : Ya gimana lagi animo masyarakat juga kan maunya Jokowi jadi presiden, partai juga mikir-mikir lah untung ruginya.

Saya : Nah itu, kesannya partai kemaruk banget mau menang. Biarkanlah Jokowi fokus di Jakarta, setidaknya biar lawan politiknya gak banyak usil dan mengakui kinerja beliau.

Ayah : Coba deh Keke maunya siapa yang dicalonin, coba kasih nama yang emang kompeten jadi presiden. Mau yang klemar-klemer lagi? Mau yang sadis? Mau yang cuma janji? Mau yang hasratnya bikin dinasti aja?

Saya : ..... hening. (Mikir, cuma ngomong dalam hati, Ah iyaa, gak ada yang berjiwa pemimpin, gak ada lagi yang bisa kami jadikan panutan sebagai Bapak/Ibu Bangsa) we're screwed.

-keke

Be Worry, January. Jakarta Banjir (lagi)?

Kamis, 06 Februari 2014

Jakarta, I'm coming!

Itulah kalimat yang saya idam-idamkan sejak lama. Yap, akhirnya saya kembali ke Jakarta setelah sekian lama merantau di kota orang.

Awal tahun 2014 yang sekaligus menjadi tahun pertama saya menjadi pengangguran (haha) dan ternyata kedatangan gue disambut dengan musim penghujan dan tentunya buah musiman Kota Jakarta di cuaca begini, yang gak lain dan gak bukan, BANJIR.

Januari 2014
Berita seputar ketinggian air di perumahan, koridor jalan, sungai, pintu air, hingga waduk menjadi familiar saat ini. Media ramai membicarakan kondisi di lapangan, siapa yang membutuhkan bantuan, siapa yang mendapatkan bantuan, siapa yang memberikan bantuan, siapa yang mendapatkan keuntungan (mungkin terdengar gila, tapi ya, ini benar ada dibicarakan oleh media), hingga pembicaraan mengenai siapa yang salah dengan banjir Jakarta. Berbicara mengenai salahnya siapa banjir Jakarta terulang lagi, entah seluruh media atau hanya media yang saya tonton dan baca justru melemparkan kesalahan ke DKI 1. Saya memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan segala pemberitaan media atau mungkin dengan pendapat sebagian orang yang menyalahkan pemerintah dalam hal banjir ini, karena menurut saya ini kesalahan siapapun yang tinggal di Jakarta. 

Jakarta banjir? Itu salahnya gubernur dong, bukan salahnya gue.
Nah, inilah bisa dibilang satu dari sekian kalimat favorit sebagian warga Jakarta. Bisa dibilang, kalimat ini menjadi mindset warga Jakarta. Manusiawi mungkin. Pernah saya menonton televisi yang menayangkan acara debat dengan topik Jakarta Banjir, dimana dalam debat tersebut ada seorang warga asli Jakarta yang menyalahkan sepenuhnya bencana banjir karena para pendatang (saya sedikit setuju pendapat ini) dan juga beliau kurang lebih menyatakan bahwa "Jakarta banjir itu karena orang-orang banyak datang ke Jakarta, malah kok sekarang gubernurnya juga didatangkan dari luar Jakarta" (saya menolak menyetujui pendapat ini). Jangan lupa, sebelum gubernur didatangkan dari luar Jakarta, banjir juga sudah terjadi di Jakarta. Dan jangan lupa juga, pertumbuhan di Jakarta yang pesat tidak sebanding dengan lamanya masa jabatan gubernur yang baru saja didatangkan dari luar Jakarta. Dan pastinya jangan pernah lupa kuatnya karakter orang - orang yang tinggal di Jakarta yang seringkali menolak dengan tegas ide pemerintah untuk membangun bersama menjadikan Jakarta lebih baik apalagi gubernurnya bukan orang Jakarta asli, sehingga tidak sedikit orang mengatakan bahwa si gubernur sok tau dengan kondisi Jakarta.