Menjadi Dewasa di Kota Penuh Kemunafikan

Jumat, 16 Mei 2014

Kota yang tenang, rutinitas yang sama, tidak pernah bergejolak, kehidupan yang monoton.
Keluarga – keluarga yang harmonis. Semua keluarga yang hidup dengan kepura-puraan.
Satu dan lainnya saling menikam dari belakang.

Tidak ada yang salah karena tidak pernah menunjukkan kebencian.
Kebencian yang selalu dilapisi dengan keramahan.
Kebencian yang selalu dilumuri cairan senyum dan tawa palsu.

Terlalu banyak adat, terlalu banyak peraturan yang harus dipatuhi oleh warga kota.
Terlalu banyak mitos yang menakuti warga tanpa adanya pembuktian yang nyata akan hal tersebut.

Apakah perkembangan kota ini akan monoton seperti yang telah diatur oleh pihak – pihak penentu? Ya pihak penentu.
Pihak – pihak yang selalu berada di belakang layar, yang dengan kekejaman yang terselubung membunuh warga kota secara perlahan.
Pihak – pihak yang mengatasnamakan diri mereka penguasa. Penguasa seluk – beluk kota.

Orang dewasa yang tidak mudah dimengerti.
Selalu menciptakan konspirasi.
Menganggap diri mereka paling mengerti, paling berpengalaman, paling berpendidikan.

Kami, Ya Kami. Yang selalu mereka anggap tidak tahu apa – apa.
Ya kami tidak tahu apa – apa, karena orang dewasa hidup dalam pura – pura.
Tidak pernah melihat kemudahan dalam suatu masalah.
Tidak bisa melihat kebahagiaan orang lain.
Selalu curiga pada suatu hal kecil yang sebenarnya polos. Mencari kesalahan.
Selalu menuntut kesempurnaan.

Ah, rasanya aku tidak mau jadi orang dewasa.
Kami sedang dihadapkan pada masalah.
Dalam beberapa hitungan tahun, kami akan menjadi dewasa.
Dilema, kami pasti menjadi dewasa secara umur dan pikiran secara otomatis akan mengikuti.
Kami akan menjadi pemarah, egois, dan menjadi makhluk dengan kepedulian di bawah garis rata – rata.
Kami harus berjanji untuk menahan diri untuk tidak tumbuh menjadi dewasa yang seperti itu.


Kami ingin menyelamatkan kota, kami ingin mendobrak kota yang kotor ini. Kota yang penuh kemunafikan. Kemunafikan karena orang dewasa. 

-Keke
10/04/2013

0 saran dan kritik:

Posting Komentar