Kota yang tenang,
rutinitas yang sama, tidak pernah bergejolak, kehidupan yang monoton.
Keluarga – keluarga
yang harmonis. Semua keluarga yang hidup dengan kepura-puraan.
Satu dan lainnya
saling menikam dari belakang.
Tidak ada yang
salah karena tidak pernah menunjukkan kebencian.
Kebencian yang
selalu dilapisi dengan keramahan.
Kebencian yang
selalu dilumuri cairan senyum dan tawa palsu.
Terlalu banyak
adat, terlalu banyak peraturan yang harus dipatuhi oleh warga kota.
Terlalu banyak
mitos yang menakuti warga tanpa adanya pembuktian yang nyata akan hal tersebut.
Apakah perkembangan
kota ini akan monoton seperti yang telah diatur oleh pihak – pihak penentu? Ya
pihak penentu.
Pihak – pihak yang
selalu berada di belakang layar, yang dengan kekejaman yang terselubung
membunuh warga kota secara perlahan.
Pihak – pihak yang
mengatasnamakan diri mereka penguasa. Penguasa seluk – beluk kota.
Orang dewasa yang
tidak mudah dimengerti.
Selalu menciptakan
konspirasi.
Menganggap diri
mereka paling mengerti, paling berpengalaman, paling berpendidikan.
Kami, Ya Kami. Yang
selalu mereka anggap tidak tahu apa – apa.
Ya kami tidak tahu
apa – apa, karena orang dewasa hidup dalam pura – pura.
Tidak pernah
melihat kemudahan dalam suatu masalah.
Tidak bisa melihat kebahagiaan
orang lain.
Selalu curiga pada
suatu hal kecil yang sebenarnya polos. Mencari kesalahan.
Selalu menuntut
kesempurnaan.
Ah, rasanya aku
tidak mau jadi orang dewasa.
Kami sedang
dihadapkan pada masalah.
Dalam beberapa
hitungan tahun, kami akan menjadi dewasa.
Dilema, kami pasti
menjadi dewasa secara umur dan pikiran secara otomatis akan mengikuti.
Kami akan menjadi
pemarah, egois, dan menjadi makhluk dengan kepedulian di bawah garis rata –
rata.
Kami harus berjanji
untuk menahan diri untuk tidak tumbuh menjadi dewasa yang seperti itu.
Kami ingin
menyelamatkan kota, kami ingin mendobrak kota yang kotor ini. Kota yang penuh
kemunafikan. Kemunafikan karena orang dewasa.
-Keke
10/04/2013
-Keke
10/04/2013
0 saran dan kritik:
Posting Komentar