Movie Review : Life of Pi

Kamis, 28 Februari 2013

Baru selesai nonton Life of Pi, film ini memiliki cerita yang sederhana menurut saya namun maknanya benar-benar dalam dan buat saya pribadi bisa meningkatkan keimanan kita terhadap Tuhan. 

Life of Pi bercerita tentang pengalaman Pi Patel yang mungkin menurut orang "normal" mustahil terjadi secara nyata. Disaat Pi dan keluarganya serta binatang - binatang milik keluarganya dalam perjalanan bermigrasi ke Canada dari India untuk kehidupan yang lebih baik, kapal yang mereka tumpangi terkena badai yang mengharuskan si Pi ini pada nantinya harus bisa survive bersama hewan buas.

Sedikit cerita, karakter Pi sewaktu kecil merupakan anak yang memiliki rasa penasaran akan Tuhan dan agama yang cukup tinggi. Dia selalu ingin mengetahui seluk-beluk agama, tidak hanya itu, bahkan Pi menganut beberapa agama sekaligus dan melakukan ibadah yang diajarkan setiap agama yang dia anut. Serunya, orangtua Pi adalah orang - orang yang cukup liberal tentang agama dan kepercayaan. 

Life of Pi's Poster (by: Google)


Menurut saya, dalam perjalanan dan pengalaman Pi setelah terjadi badai merupakan perjalanan dimana dia akhirnya bisa memaknai kehadiran Tuhan di dalam hidupnya.

Even when God seemed to have abandoned me, he was watching.
Even when he seemed indifferent to my suffering, he was watching.
And when I was beyond all hope of saving, he gave me rest.
Then he gave me a sign to continue my journey.
 - One of my favorite Life of Pi's quote-

Film ini awalnya saya sempat menolak untuk menontonnya, karena di trailer efek filmnya cukup aneh, terlalu fantasi menurut saya. Namun, film ini ternyata oke punya, so I have to say don't judge a movie by its trailer haha.
Brilliant story, great effect, best shoot, deep meaning, genius actor!!!

-Keke

Own Review~ The Hunger Games

Rabu, 27 Februari 2013

Haai. This is my first time in review-ing (?!) book.

Mungkin udah basi banget kali yah kalau saya buat review dari Hunger Games?? Secara filmnya udah keluar bulan Juni 2012 (kalo ga salah).
Daaaan, untuk filmnya saya menolak untuk nonton dulu, karena takut kecewa kalo baca bukunya abis nonton film jadi ge meresap gimanaaa gitu kayak kejadian pas baca Twilight, jadi males-malesan karena udah keburu nonton filmnya duluan.

Oke, buku karangan Suzanne Collins ini "hip" banget di Amerika sana, bahkan sebelum filmnya keluar, Hunger Games jadi bahan omongan plus tersebar luas candid artis-artis hollywood yang nenteng nih buku kemana-mana. Oiya, ini nih gambar covernya.

The Hunger Games by Suzanne Collins


Menurut saya sendiri, The Hunger Games cukup seru, karena Collins bisa mengembangkan imajinasi saya yang biasanya paling susah baca novel ribet, mikirin gimana hidup di Panem, esp. kalo kita terpilih jadi peserta Hunger Games (!!)

Cerita diawali dengan kehidupan Katniss Everdeen yang hidup di Distrik 12. Distrik 12 sendiri adalah 1 dari 12 distrik yang berada di Panem, dimana pusat Panem sendiri tuh Capitol.
Setiap tahun Capitol mengadakan event besar yang dinamakan Hunger Games, dimana setiap distrik akan terpilih 2 orang, satu cowok dan satu cewek yang akan menjadi peserta dalam event ini, dan hanya ada satu juara. Senengnya tuh bayangin gimana dandanannya Capitol (ini nih yang bikin setengah mati penasaran sama filmnyaa) dan gimana ketegangan pas hunger games dimulai.

Kalo ini The Hunger Games's Cast, jadi yang baru baca bisa sambil ngebayangin nih :D


Jujur, disini saya ga terlalu suka sama sifat Katniss (saya mah nyamainnya karakter Katniss mirip sama Bella Swan), karena di satu sisi dia diilustrasiin kayak cewek tough and strong, tapi sometimes menurut saya mah dia egois (menurut saya loh :D).

Overall, The Hunger Games worthy sekali buat dibaca, alurnya juga mudah diikuti. Daaaan, saya pun udah baca Catching Fire, serial kedua dari Hunger Games..

Yang belum baca, sok atuh capcus ke toko buku
-Keke

Ideologi Pendaki Gunung


Apa sih spesialnya dari gunung? Lebih – lebih, kenapa banyak sekali orang yang hobi mendaki gunung? Pertanyaan – pertanyaan itu yang ada di pikiran saya saat melihat persiapan-persiapan mahasiswa pencinta alam yang ingin pergi mendaki.

“Gunung itu seram, misterius, banyak hal mistis yang gak bakal bisa diduga terjadi di gunung, belum lagi capek, ngos-ngosan (?!), kalau ada apa-apa siapa coba yang bantuin?”, Mindset inilah yang terbentuk di diri saya selama ini, sampai saya mengenal “cukup” dekat dengan bolang (haha) yang hobinya naik gunung. Ya, Si Warga Neptunus (lagi dan lagi).

“Aku suka gunung, sukaaaaa banget banget banget”,  rasanya seperti inilah yang disampaikan oleh Si Warga Neptunus kalau ia mulai bercerita tentang gunung. Saya seperti dibawa ke dunianya, ceritanya penuh semangat dan bikin saya kagum!

“Gunung itu buat aku seperti miniatur kehidupan”, katanya.

Ia melanjutkan, “Ibarat gunung, ada naik ada turun, dimana pada situasi kita ingin naik kita harus susah-susah, capek, berjuang, dan pas sampai di puncak rasanya lega dan puas banget. Selain itu, ada liku ada waspada, untuk mencapai puncak kita harus melewati lika-liku itu dulu, juga belokan – belokan kecil, hambatan, bahkan mungkin memutar jalan dan mencari jalan alternatif kalau diperlukan, kayak hidup manusia”.

“Gunung itu buat aku dekat dengan orang”, katanya.

Kata Si Warga Neptunus, setiap naik gunung dia merasa lebih dekat dengan teman-teman lainnya sesama pendaki. “Di atas gunung, persahabatan bisa terjalin dan bermakna banget. Saling menjaga satu sama lain, saling bergantung satu sama lain, dan lagi di atas gunung harus saling terbuka gak boleh ada rahasia, sakit ya bilang sakit, capek ya bilang capek, jangan ada yang ditutup-tutupin”.

“Gunung itu buat aku dekat dengan Tuhan”, katanya.

Ini pemikiran Si Warga Neptunus yang sangat berhasil bikin aku kagum. “Pas aku sampai di puncak gunung pertama kalinya, aku bener-bener ngerasa jadi manusia itu keciiiil banget di mata Tuhan, bener-bener gak berdaya”, ujarnya. Selain itu, di atas gunung membuat ia sadar bahwa ciptaan Tuhan itu indah banget dan harus disyukuri.

Banyak sekali yang dia ceritakan mengenai gunung, entah itu budaya dan kebiasaan warga-warga yang tinggal di pegunungan, dan lainnya yang bisa sedikit mengubah pemikiran saya tentang gunung, dan membuat saya mulai memikirkan bahwa mendaki itu worth to try.

Si Warga Neptunus juga sempat mengutip salah satu quote dari Bung Karno, “Negara tidak akan kehabisan pemimpin selagi pemudanya masih menyusuri gunung dan pantai”, mungkin kira-kira bunyi quote-nya seperti itu (CMIIW).

Saya tidak sabar apa lagi cerita yang disampaikan sama Si Warga Neptunus, haha.

-Keke

Siapa yang tahu Indonesia itu apa?


“Menurut kamu Indonesia itu apa?”


Pertanyaan ini dilontarkan begitu saja oleh Si Warga Neptunus sekitar pukul 04.00 dini hari. 
Pertanyaan yang menimbulkan dua pertanyaan terhadap diri saya. Disatu sisi saya pikir pertanyaannya garing! “Kenapa juga hal yang seperti ini harus dibahas, untuk apa gunanya tiba-tiba nanya Indonesia itu apa”, pikir saya. Lain sisi, saya berpikir, “Jawaban seperti apa yang harus saya sampaikan, saya tidak tahu Indonesia itu apa, mau saya jawab Indonesia itu negara saya but that’s cliche, mau saya jawab negara kesatuan tapi saya pun mempertanyakan jawaban itu”, dan saya akhirnya menyerah dan bilang, “Aku gak tau”. 

Si Warga Neptunus langsung nyeletuk, “Ini nih yang salah dari orang Indonesia, bukan menyalahkan kamu tapi yah inilah kenyataan jaman sekarang”.

Saya dan dia sempat terdiam, lalu Si Warga Neptunus bilang, “Aku pun gak tau definisi Indonesia itu apa, jati diri Indonesia itu apa, dari lahir kita pun gak pernah ditanamkan jati diri Indonesia itu apa, bahkan pendidikan pun hanya menyampaikan sejarah, masa kelam Indonesia.”

Setelah  Si Warga Neptunus mengatakan hal tersebut yang saya lakukan hanya mengangguk-anggukan kepala tanpa mengeluarkan satu kata sampai ia bilang, “Ayo kita pikirin bareng, menurutmu Indonesia itu apa”.

Aku                             : “Ah, gak tau deh bingung”

Si Warga Neptunus  : “Mulai dari aku yah, kalo kata orang-orang Indonesia itu Negara Kepulauan, tapi aku lebih seneng menganggap Indonesia itu Negara Maritim”

Aku                              : “Lah, kenapa?”

Si Warga Neptunus  : “Lebih keren aja kedengerannya”

Aku                           : “Kalo menurut aku kekayaan budaya dan adat istiadat di Indonesia itu bukan hal yang bagus, bukan berarti jelek. Kekayaan budaya itu kekurangan Indonesia, karena di setiap daerah yang memiliki adat yang berbeda-beda, dimana karakter orang pun beda-beda, dan untuk saat ini toleransi akan hal itu masih minim banget. Dulu sampai sempat ada pemikiran cukup ekstrem, kenapa setiap pulau di Indonesia tidak punya Presiden sendiri, mungkin akan lebih mudah mengaturnya, toh saat ini masih aja kedengeran isu SARA di pemerintahan (yang menurutku ga etis).  Kalau memang kita belum menerima perbedaan budaya, kenapa harus dibanggakan?”

Ya, hal-hal di atas itu beberapa pemikiran gila kita tentang Indonesia, banyak sekali hal-hal yang kita bahas walaupun hanya melalui media telepon genggam. Ada satu hal juga yang kita berdua setujui bersama, kita menganggap bahwa “ Indonesia belum siap dengan demokrasi”, “Indonesia butuh pemimpin”, “Indonesia masih bisa dan harus bisa bangkit”.

Saya bilang ke Si Warga Neptunus, kalau saya itu kaum pesimis dan saya hanya bisa mengkritik yang tidak membangun, intinya saya mengeluh tentang kondisi di negeri ini tanpa menghadirkan solusi, saya menyalahkan keadaan, saya bukan menyalahkan Indonesia, saya menyalahkan dan menyayangkan orang-orang di dalamnya termasuk saya sendiri. Si Warga Neptunus bilang, "Masih banyak kok yang indah, coba kamu pikir dari sisi lain".

Si Warga Neptunus bilang, “Indonesia itu indah banget yah, sayang banget kalau ga dijaga, kita udah numpang hidup disini tapi gak pernah memberikan timbal balik ke Indonesia, aku mau bawain bunga deh buat Indonesia”. – kata-kata ini sukses buat saya senyam-senyum sendiri.

Masih banyak sekali yang bisa dipikirkan tentang Indonesia, “Gak ada habisnya”, kalau kata Si Warga Neptunus. 

-Keke

Apa Abdiku???


Perkenalanku dengan seseorang, sebut saja Si Warga Neptunus (bukan ketularan dari salah satu film -red) benar-benar mampu meluaskan cara pandang saya selama ini sekaligus memberi tamparan serta membuatku merenung ratusan kali, apa yang sudah saya perbuat selama 22 tahun hidup saya lamanya.
Jangankan hal-hal besar seperti harapan setiap orangtua kepada anaknya untuk berguna bagi bangsa dan negara atau mungkin harapan Si Anak untuk dapat membahagiakan  kedua orangtuanya yang ia kasihi, melakukan hal yang berguna untuk diriku sendiri pun rasanya nihil.

Aku melakukan apa disaat kaum muda belajar dengan giat dan saling berkompetisi untuk menjadi yang terbaik dalam bidang apapun.

Aku sedang apa disaat kaum muda membangun komunitas bermanfaat, baik hanya dalam menunjang hobi mereka atau bahkan hal hebat seperti komunitas pencinta lingkungan.

Aku dimana saat kaum muda menunjukkan sikap nasionalisme mereka, yang direalisasikan walau hanya melalui demonstrasi atau bahkan hal hebat seperti memenangkan berbagai perhelatan di kancah internasional.

Aku ingin melakukan sesuatu.

Aku ingin melakukan sesuatu.

Aku ingin melakukan sesuatu.

Kata-kata itu berulang kali aku tanamkan di hati dan pikiranku, tapi ternyata rasa takutku lebih besar dari yang aku kira, pun dari yang orang-orang kira. Bukan, tujuanku bukan ingin menjadi orang terkenal, aku hanya ingin bermanfaat, memberi pengaruh positif ke orang-orang di sekitarku agar aku tidak merasa menjadi pemuda yang gagal.

26/02/2013
16:27
-Keke