Tengah malam, lihat acara televisi
Entah apa yang dilakukan para orang
cerdik itu.
Cerdik? Ya, kata itu lebih tepat
dibandingkan dengan menyebut mereka pintar.
Pintar itu berilmu.
Yang ini cerdik seperti tikus,
seperti sebutan mereka Si Poli-tikus.
Singkat cerita, tikus akan mencari
celah kemanapun untuk mengisi perutnya,
bahkan harus secara kotor dengan
melewati gorong-gorong atau mengais tempat sampah.
Tengah malam, sulit sekali untuk
tidur.
Acara televisi semakin seru.
Terlalu bodohnya saya, saya tidak
paham dengan tontonan yang mereka suguhkan.
Tidak paham pula apa yang mereka
ributkan.
Bukannya hasil akhirnya sudah jelas?
Mengapa harus ada drama?
Seringkali saya menonton film,
umumnya sekumpulan orang bodoh akan memilih pimpinan terbodoh. Sekumpulan orang
licik ya akan memiliki pimpinan terlicik.
Acara televisi bikin malu saja.
Acara televisi di negara demokrasi,
kok terlihat Si Otoriter mencengkeram kekuasaan.
Terbersit rasa syukur, tidak satupun
orang yang saya kenal ada disana.
Meskipun tidak duduk di sofa kulit,
bahasa saya lebih terjaga.
Meskipun belum berpenghasilan, saya
merasa lebih kaya secara batin.
Apa yang mereka mau pertontonkan?
Bikin malu saja.
Ah, saya lupa. Ini sudah tengah
malam.
Anak-anak para aktor sedang tidur
nyaman di kasur empuk.
Tidak harus merasa malu karena
menonton ayah atau ibunya
yang sedang memperjuangkan “hak
rakyat”.
Tidak harus merasa bangga karena
menonton ayah atau ibunya
sedang bersekongkol untuk
merencanakan pengumpulan pundi-pundi di masa mendatang.
Tidak harus merasa malu karena ayah
atau ibunya
menyebut nama Tuhan hanya untuk
mempermulus kegiatan jahanam mereka di masa depan.
Ini tengah malam, toh rakyat yang
suaranya sedang diperjuangkan sudah tertidur pulas.
Rakyat yang mana yang diperjuangkan?
Ada yang berteriak mungking memang
benar atas nama rakyat.
Ada yang berteriak atas nama perut
sendiri.
Ada yang berteriak demi ikut
menggembirakan acara televisi yang seru ini.
Ada yang berteriak sebagai
provokator kampungan.
Ada yang berteriak karena isi
otaknya yang memang kosong, membusuk, dan membau.
Kalian yang mana?
Tengah malam, setelah rehat acara
dimulai kembali.
Entah kenapa sedih menonton acara
yang seru ini.
Ini bahkan bukan film romantis,
bukan pula drama.
Tapi tontonan ini sudah terlihat
akan berakhir menyedihkan. Negara ini menyedihkan.
Saya kembali tidur saja. Mungkin
saat bangun nanti, semua tontonan itu hanya mimpi.
-Keke
0 saran dan kritik:
Posting Komentar