Tontonan Rakyat Tengah Malam (Sidang Paripurna 01 Oktober 2014)

Rabu, 01 Oktober 2014



Tengah malam, lihat acara televisi
Entah apa yang dilakukan para orang cerdik itu.
Cerdik? Ya, kata itu lebih tepat dibandingkan dengan menyebut mereka pintar.
Pintar itu berilmu.
Yang ini cerdik seperti tikus, seperti sebutan mereka Si Poli-tikus.
Singkat cerita, tikus akan mencari celah kemanapun untuk mengisi perutnya,
bahkan harus secara kotor dengan melewati gorong-gorong atau mengais tempat sampah.

Tengah malam, sulit sekali untuk tidur.
Acara televisi semakin seru.
Terlalu bodohnya saya, saya tidak paham dengan tontonan yang mereka suguhkan.
Tidak paham pula apa yang mereka ributkan.
Bukannya hasil akhirnya sudah jelas? Mengapa harus ada drama?
Seringkali saya menonton film, umumnya sekumpulan orang bodoh akan memilih pimpinan terbodoh. Sekumpulan orang licik ya akan memiliki pimpinan terlicik.


Tengah malam, saya menonton sambil senyum-senyum sendiri.
Acara televisi bikin malu saja.
Acara televisi di negara demokrasi, kok terlihat Si Otoriter mencengkeram kekuasaan.
Terbersit rasa syukur, tidak satupun orang yang saya kenal ada disana.
Meskipun tidak duduk di sofa kulit, bahasa saya lebih terjaga.
Meskipun belum berpenghasilan, saya merasa lebih kaya secara batin.
Apa yang mereka mau pertontonkan? Bikin malu saja.

Ah, saya lupa. Ini sudah tengah malam.
Anak-anak para aktor sedang tidur nyaman di kasur empuk.
Tidak harus merasa malu karena menonton ayah atau ibunya
yang sedang memperjuangkan “hak rakyat”.
Tidak harus merasa bangga karena menonton ayah atau ibunya
sedang bersekongkol untuk merencanakan pengumpulan pundi-pundi di masa mendatang.
Tidak harus merasa malu karena ayah atau ibunya
menyebut nama Tuhan hanya untuk mempermulus kegiatan jahanam mereka di masa depan.

Ini tengah malam, toh rakyat yang suaranya sedang diperjuangkan sudah tertidur pulas.
Rakyat yang mana yang diperjuangkan?
Ada yang berteriak mungking memang benar atas nama rakyat.
Ada yang berteriak atas nama perut sendiri.
Ada yang berteriak demi ikut menggembirakan acara televisi yang seru ini.
Ada yang berteriak sebagai provokator kampungan.
Ada yang berteriak karena isi otaknya yang memang kosong, membusuk, dan membau.
Kalian yang mana?

Tengah malam, setelah rehat acara dimulai kembali.
Entah kenapa sedih menonton acara yang seru ini.
Ini bahkan bukan film romantis, bukan pula drama.
Tapi tontonan ini sudah terlihat akan berakhir menyedihkan. Negara ini menyedihkan.
Saya kembali tidur saja. Mungkin saat bangun nanti, semua tontonan itu hanya mimpi.

 -Keke

0 saran dan kritik:

Posting Komentar