Be Worry, January. Jakarta Banjir (lagi)?

Kamis, 06 Februari 2014

Jakarta, I'm coming!

Itulah kalimat yang saya idam-idamkan sejak lama. Yap, akhirnya saya kembali ke Jakarta setelah sekian lama merantau di kota orang.

Awal tahun 2014 yang sekaligus menjadi tahun pertama saya menjadi pengangguran (haha) dan ternyata kedatangan gue disambut dengan musim penghujan dan tentunya buah musiman Kota Jakarta di cuaca begini, yang gak lain dan gak bukan, BANJIR.

Januari 2014
Berita seputar ketinggian air di perumahan, koridor jalan, sungai, pintu air, hingga waduk menjadi familiar saat ini. Media ramai membicarakan kondisi di lapangan, siapa yang membutuhkan bantuan, siapa yang mendapatkan bantuan, siapa yang memberikan bantuan, siapa yang mendapatkan keuntungan (mungkin terdengar gila, tapi ya, ini benar ada dibicarakan oleh media), hingga pembicaraan mengenai siapa yang salah dengan banjir Jakarta. Berbicara mengenai salahnya siapa banjir Jakarta terulang lagi, entah seluruh media atau hanya media yang saya tonton dan baca justru melemparkan kesalahan ke DKI 1. Saya memiliki pendapat yang bertolak belakang dengan segala pemberitaan media atau mungkin dengan pendapat sebagian orang yang menyalahkan pemerintah dalam hal banjir ini, karena menurut saya ini kesalahan siapapun yang tinggal di Jakarta. 

Jakarta banjir? Itu salahnya gubernur dong, bukan salahnya gue.
Nah, inilah bisa dibilang satu dari sekian kalimat favorit sebagian warga Jakarta. Bisa dibilang, kalimat ini menjadi mindset warga Jakarta. Manusiawi mungkin. Pernah saya menonton televisi yang menayangkan acara debat dengan topik Jakarta Banjir, dimana dalam debat tersebut ada seorang warga asli Jakarta yang menyalahkan sepenuhnya bencana banjir karena para pendatang (saya sedikit setuju pendapat ini) dan juga beliau kurang lebih menyatakan bahwa "Jakarta banjir itu karena orang-orang banyak datang ke Jakarta, malah kok sekarang gubernurnya juga didatangkan dari luar Jakarta" (saya menolak menyetujui pendapat ini). Jangan lupa, sebelum gubernur didatangkan dari luar Jakarta, banjir juga sudah terjadi di Jakarta. Dan jangan lupa juga, pertumbuhan di Jakarta yang pesat tidak sebanding dengan lamanya masa jabatan gubernur yang baru saja didatangkan dari luar Jakarta. Dan pastinya jangan pernah lupa kuatnya karakter orang - orang yang tinggal di Jakarta yang seringkali menolak dengan tegas ide pemerintah untuk membangun bersama menjadikan Jakarta lebih baik apalagi gubernurnya bukan orang Jakarta asli, sehingga tidak sedikit orang mengatakan bahwa si gubernur sok tau dengan kondisi Jakarta.

Pertanyakanlah dengan masing-masing diri kalian wahai penghuni Jakarta, Sudahkah buang sampah pada tempatnya? Apakah kalian sudah menuruti peraturan untuk tidak membangun hunian di bantaran sungai? Gimana kabarnya gotong royong yang minimal sebulan satu kali kalian lakukan untuk sekedar bersih-bersih lingkungan sekitar tempat tinggal? Untuk yang memiliki uang berlebih, sudahkah kalian mencoba untuk tidak terus-terusan menambah beban lahan atau sekedar tidak menutupi tanah dengan semen dan beton? Sudahkah pemilik industri yang untungnya berlipat-lipat tidak mengeksploitasi air tanah? Ah iya saya lupa, banjir melanda Jakarta kan salahnya gubernur, bukan salah saya ataupun kalian.

Tiap tahun seperti ini kondisinya, mohon perhatiannya dari pemerintah
Beberapa lokasi yang langganan terkena banjir pastinya selalu menjadi sorotan publik dan media. Seharusnya, warga yang menghuni daerah rawan banjir hafal dengan kondisi yang akan terjadi apabila terjadi hujan yang terus-menerus, pastinya ketinggian air akan terus meningkat, belum lagi apabila adanya kiriman air dari wilayah-wilayah yang lebih tinggi dari sekitar Jakarta atau wilayah sekitar kampung mereka. Mereka jelas tahu apa yang akan terjadi, tapi para langganan banjir ini hanya sekedar tahu, namun tidak ada pergerakan yang mereka lakukan hingga ketinggian yang mereka anggap berbahaya. Saya bukannya tidak tahu apapun atau tidak pernah merasakan rumah saya kebanjiran. Sekitar lima tahun yang lalu sebelum saya pindah rumah, rumah saya selalu banjir. Keluarga dan warga di area hunian saya cukup aware dengan banjir. Jam berapapun itu, kami akan siap karena kami telah berusaha semampu kami untuk memindahkan barang penting (seperti seragam sekolah, surat-surat penting, dan elektronik) ke tempat yang lebih tinggi (menggunakan meja, lemari, loteng, dsb). Kami tidak menunggu ketinggian air menjadi luar biasa tinggi dan kami tidak hanya mengandalkan bantuan baik pemerintah atau siapapun.

Ada suatu kasus yang cukup menjadi perhatian saya selama mengamati korban banjir. Wilayah-wilayah yang langganan banjir biasanya diberi perhatian ekstra, sebut aja daerah Kampung Banjir. Kampung Banjir ini dijaga ketat baik dari tim SAR dan TNI untuk kepentingan evakuasi dan dari posko bantuan untuk menyalurkan segala keperluan korban. Berbeda dengan kondisi warga di tempat saya dahulu, warga Kampung Banjir yang memiliki segala akses bantuan justru mempersulit diri mereka sendiri untuk dievakuasi,  tidak jarang mereka menolak untuk menghuni sementara di pengungsian, bahkan dengan entengnya mereka mengatakan kalau "airnya belum tinggi". Terkadang perhatian yang berlebihan pun tidak terasa kalau yang menerima perhatian tidak terdesak.

Kenapa Jakarta terus-terusan banjir?
Simpel. Dari hal terkecil, sampah yang dibuang sembarangan menjadi penyebab tersumbatnya saluran-saluran air yang seharusnya menjadi wadah untuk mengalirnya air hujan. Tidak jarang pula terlihat sampah-sampah berukuran besar yang menghadang pintu air (pernah saya lihat ada sofa dan kayu-kayu mengapung di pintu air, ini bukti bahwa tidak hanya sampah sebesar bungkus permen yang dibuang sembarangan). Hal lain yang menyebabkan banjir terasa semakin tinggi setiap tahunnya adalah penurunan tanah Jakarta. Entah penurunan terjadi karena beban lahan yang terlalu besar atau karena karena eksploitasi air tanah yang gila-gilaan atau bahkan akibat kedua hal tersebut.

Saya baru saja membaca artikel yang diposting oleh Pak Marco Kusumawijaya (klik disini), yang dalam artikel tersebut beliau menjelaskan bahaya yang dapat terjadi akibat land subsidence Jakarta. Hal terburuk menurut beliau akibat penurunan tanah terus menerus adalah akan terbentuk cekungan-cekungan baru secara tidak teratur, karena kecepatan penurunan tanah yang berbeda-beda pada setiap titik. Bahkan kemungkinan yang lebih parah menurut beliau dapat terjadi pada rusaknya sistem saluran di bawah tanah, karena penurunan tanah yang berbeda-beda dapat menggagalkan saluran, bisa karena patahnya saluran atau arah aliran yang berbeda karena pipa patah atau bocor. Yang akan terjadi? timbulnya genangan air sehingga titik-titik wilayah banjir semakin banyak dan meluas.

Solusi?
Untuk sekarang, menurut saya hal yang paling membantu untuk meminimalisir banjir di Jakarta adalah kesadaran masyarakat baik dari golongan apapun untuk tidak membuang sampah sembarangan, stop pembangunan dan perbanyak resapan air, dan penting sekali bagi pemerintah untuk memperbaiki drainase, jangan hanya mementingkan perbaikan jalan yang rusak karena banjir, tetapi poin yang paling krusial dan prioritas yaitu sistem drainase.

Keke

0 saran dan kritik:

Posting Komentar