SDGs, Tujuan Ambisius dengan Strategi Sederhana

Jumat, 17 Juni 2016

Sustainable Development Goals (SDGs) yang akhir-akhir ini menjadi perbincangan dalam pembangunan merupakan pemikiran lanjutan dari Millenium Developmen Goals (MDGs) yang berakhir pada tahun 2015. SDGs sendiri memiliki 17 tujuan dan 169 target yang harus dicapai pada tahun 2030. SDGs memiliki target-target yang lebih detail dan  multisektor dibandingkan dengan MDGs sebelumnya. Secara global, SDGs sendiri memiliki tiga tujuan prioritas yaitu kesejahteraan masyarakat, keadilan sosial, dan kelestarian lingkungan. SDGs sangat membutuhkan peran masyarakat. Dapat dikatakan bahwa SDGs merupakan tujuan pembangunan ambisius dengan strategi yang sederhana, yaitu dengan memberdayakan dan mengoptimalkan peran masyarakat dalam mencapai tujuan-tujuan pembangunan berkelanjutan.


Chart of UN Sustainable Development Goals.png
SDGs Goals (https://en.wikipedia.org/wiki/Sustainable_Development_Goals)


Dalam wawancara dengan Jeffrey Sachs melalui CNN Indonesia, dikatakan bahwa suara masyarakat sangat mempengaruhi ke arah mana pemerintah akan merumuskan kebijakan. Sachs percaya bahwa pemerintah atau pemimpin negara tidak sepenuhnya sebagai pemimpin, tapi sebagai pengikut. Karena, mereka akan membuat kebijakan berbasis kepentingan, dan kepentingan utama adalah opini publik yang terbentuk. 

Dicontohkan oleh Sachs dalam kasus Amerika, dimana salah satu partai menyangkal adanya fenomena pemanasan global. Padahal, penyangkalan tersebut hanyalah kamuflase beberapa pihak untuk menutupi keuntungan finansial yang besar yang didapat dari industri pertambangan dan perminyakan. Penyangkalan ini pun mendapatkan respon yang sangat besar dalam masyarakat, dimana masyarakat berpendapat bahwa penyangkalan tersebut hanyalah ide bodoh dan tak masuk akal.  Bahkan lebih dari 70% warga Amerika sangat mendukung perlunya sumber energi baru dibandingkan hanya bergantung pada energi geotermal. Hal ini dikarenakan masyarakat sendiri dapat melihat bahwa pemanasan global merupakan ancaman yang serius bagi kehidupan yang akan datang. Dengan adanya perhatian masyarakat yang besar pada suatu isu, mau tak mau kebijakan ataupun arah politik akan bergerak untuk mengikuti keinginan masyarakat.

Untuk negara maju dengan populasi yang sedikit, kesadaran masyarakat akan pentingnya kelestarian lingkungan mungkin dapat dengan mudah dicapai dengan minat yang tinggi. Namun, yang menjadi tantangan bersama adalah bagaimana membangun tingkat kesadaran masyarakat di negara-negara berkembang untuk bekerja sama dalam mewujudkan keberhasilan SDGs.  Kota – kota di Denmark, Norwegia, Swedia, dan negara Skandinavia lainnya menjadi tolak ukur pembangunan berkelanjutan serta role model pembangunan beberapa tahun terakhir. Pembangunan ramah lingkungan yang selaras dengan kesejahteraan masyarakat menjadikan negara-negara tersebut sebagai negara yang kondisinya mendekati keberhasilan seluruh target SDGs. Pencapaian tersebut tidak lain karena peran masyarakat yang besar. Masyarakat di negara-negara Skandinavia memang dapat dikategorikan sebagai populasi yang kecil dan dalam luasan wilayah yang tidak terlalu besar. Sehingga memberikan anggapan bahwa mudahnya mengontrol lingkungan dan masyarakatnya, yang mana kondisi berbalik yang dihadapi oleh negara-negara berkembang seperti Indonesia. Padahal, pelajaran terbesar yang dapat diambil dari keberhasilan negara-negara tersebut adalah masyarakatnya yang sangat menghargai pendidikan, menghargai lingkungan, dan bagaimana berusaha meminimaliskan kesenjangan sosial. Mereka percaya bahwa kehidupan yang baik akan terwujud apabila mereka ikut berperan dalam pembangunan dan menumbuhkan sense of belonging terhadap lingkungan tempat tinggal mereka.

SDGs bagi beberapa pihak mungkin dianggap sebagai kemustahilan dengan target-target yang sangat banyak, bahkan sanggup menargetkan No Poverty dan Zero Hunger. Pertanyaannya adalah, apakah sanggup dicapai dalam 15 tahun? Tidak, apabila masyarakat tidak memiliki perhatian yang besar dalam mencapai SDGs. Akan tetapi, tidak mustahil untuk mewujudkannya dengan membangun kesadaran masyarakat akan pentingnya kehidupan di masa mendatang.  Dengan menumbuhkan rasa menghargai lingkungan, meningkatkan hubungan sosial dalam masyarakat, dan kepedulian untuk mengingatkan pemerintahan agar berjalan dengan tujuan pembangunan yang sama. Pencapaian SDGs bukan hanya diwujudkan melalui program-program pemerintah, namun dapat dimulai melalui proses di lingkup yang kecil. Yaitu dengan memberdayakan komunitas melalui peningkatan solidaritas dan kegiatan-kegiatan kecil untuk memperbaiki lingkungan.

Re-Post

Minggu, 20 Maret 2016

http://www.kompasiana.com/kenyagiovanni/sudah-pantaskah-jakarta-dijuluki-kota-cerdas_55640096af9273c40fb564ee


http://www.kompasiana.com/kenyagiovanni/ubah-paradigma-ruang-publik-juga-bisa-menguntungkan_560bf6973f23bd5908fc6312

Wishes.

Rabu, 31 Desember 2014

Dear my blog,

I miss post something here.
Next year I'll post a lot, hopefully.

10 Ways to Love English

Kamis, 09 Oktober 2014


English as we know is the basic language that used around the world. Business field, internet, textbooks and reference for school or college, even life-style nowadays are influenced by English. Therefore, if we can not keep up and go with the development of current condition we will be left behind.
English is difficult and not interested for Indonesian students because it is not their mother language. They are not used to use it because of the neighborhood and their daily activities do not support the using of English language. In usual, grammar and vocabulary are the problems when study English. Students are often confused and mess in structuring the right or appropriate words.
The main problem is mostly students are difficult to love English, even it can be said that they hate learning English. Therefore, here are some tips how to love English and how to learn it in a joyful way.

Tontonan Rakyat Tengah Malam (Sidang Paripurna 01 Oktober 2014)

Rabu, 01 Oktober 2014



Tengah malam, lihat acara televisi
Entah apa yang dilakukan para orang cerdik itu.
Cerdik? Ya, kata itu lebih tepat dibandingkan dengan menyebut mereka pintar.
Pintar itu berilmu.
Yang ini cerdik seperti tikus, seperti sebutan mereka Si Poli-tikus.
Singkat cerita, tikus akan mencari celah kemanapun untuk mengisi perutnya,
bahkan harus secara kotor dengan melewati gorong-gorong atau mengais tempat sampah.

Tengah malam, sulit sekali untuk tidur.
Acara televisi semakin seru.
Terlalu bodohnya saya, saya tidak paham dengan tontonan yang mereka suguhkan.
Tidak paham pula apa yang mereka ributkan.
Bukannya hasil akhirnya sudah jelas? Mengapa harus ada drama?
Seringkali saya menonton film, umumnya sekumpulan orang bodoh akan memilih pimpinan terbodoh. Sekumpulan orang licik ya akan memiliki pimpinan terlicik.


Takdir Manusia

Jumat, 08 Agustus 2014

Hei, kamu!
Ya, kamu!
Kau mau lari kemana lagi?
Kau mau lari dengan apa lagi?
Lari dengan uangmu?
Lari dengan jabatanmu?
Tidakkah kau paham? Kau sudah tidak bisa lari lagi.

Saudaramu? Peduli apa mereka dengan keadaanmu.
Temanmu? Huh, tidak jauh berbeda dengan saudaramu yang berbagi darah denganmu.
Cukup dengan ucapan belasungkawa, kehidupan mereka dengan segera kembali normal.

Kau pikir siapa lagi yang akan berbelas kasihan?
Kau ingin memohon belas kasihan kepada siapa?

Jangan pernah kau anggap orangtuamu bisa menolongmu.

Tuhanmu? Yang tidak pernah sekalipun terlintas hadir di duniamu?
Tuhanmu? Yang dilupakan karena kesibukanmu dengan segala urusanmu? Urusan yang katamu manusiawi itu.
Tuhanmu? Yang segala larangannya kamu lakukan tanpa merasa berdosa.
Tuhanmu? Yang tidak pernah kau bersimpuh memohon ampunan-Nya.

Hei, kamu!
Ya, kamu!

Kapan kau sadar bahwa kau tidak bisa lari dari takdir?

-Keke

Menjadi Dewasa di Kota Penuh Kemunafikan

Jumat, 16 Mei 2014

Kota yang tenang, rutinitas yang sama, tidak pernah bergejolak, kehidupan yang monoton.
Keluarga – keluarga yang harmonis. Semua keluarga yang hidup dengan kepura-puraan.
Satu dan lainnya saling menikam dari belakang.

Tidak ada yang salah karena tidak pernah menunjukkan kebencian.
Kebencian yang selalu dilapisi dengan keramahan.
Kebencian yang selalu dilumuri cairan senyum dan tawa palsu.

Terlalu banyak adat, terlalu banyak peraturan yang harus dipatuhi oleh warga kota.
Terlalu banyak mitos yang menakuti warga tanpa adanya pembuktian yang nyata akan hal tersebut.

Jaman Edan, Posting, dan Pamer..

Senin, 12 Mei 2014

"Lo liat status dia ga? Iya, di path-nya sama facebook-nya. Sumpah yaa, hedon banget"

Obrolan tersebut seringkali gue denger di angkot, busway, tempat makan, bahkan toilet bioskop.

"Bentar - bentar foto dulu makanannya, jangan dimakan dulu. (Panggil pelayan resto) Mas, bisa tolong fotoin gaaa..."

Yang kayak gitu hobi banget dilakuin orang - orang jaman sekarang.

Dunia sudah semakin tua ternyata, penduduknya semakin riya.

Keke

Fatamorgana

Senin, 05 Mei 2014

Malamku selalu kamu
Mimpiku itu kamu
Namun ternyata itu hatiku yang terbelenggu
Terbelenggu dari ketidakhadiranmu

Terbitnya matahari bukanlah harapanku
Hilangnya bulan berarti lenyapnya dirimu
Kamu dan kehangatanmu
Yang tersisa hanyalah kamu dan kesinisanmu
Aku sadar tidak seharusnya bangun dari tidur lelapku

Keke
Friday, May 2nd 2014

Indonesia krisis pemimpin

Jumat, 14 Maret 2014

Baru saja salah satu partai yang maju pemilu 2014 mendeklarasi Capres yang diusung mereka. Jokowi, Gubernur DKI Jakarta, yang masih dalam masa kerja sebagai gubernur akhirnya diusung partai menjadi capres.
Saya menonton deklarasi melalui televisi berdua dengan ayah, selanjutnya percakapan aneh terjadi.
(perlu dimaklumi dan digarisbawahi,boleh pun dianggap saya awam tentang dunia per-politik-an)

Saya : PDIP kayaknya salah langkah deh kalo mencalonkan Jokowi di pemilu sekarang

Ayah : salah kenapa..?

Saya : Ya gak pas aja, kesannya terburu-buru kalo Jokowi dicalonin jadi Capres.

Ayah : Ya gimana lagi animo masyarakat juga kan maunya Jokowi jadi presiden, partai juga mikir-mikir lah untung ruginya.

Saya : Nah itu, kesannya partai kemaruk banget mau menang. Biarkanlah Jokowi fokus di Jakarta, setidaknya biar lawan politiknya gak banyak usil dan mengakui kinerja beliau.

Ayah : Coba deh Keke maunya siapa yang dicalonin, coba kasih nama yang emang kompeten jadi presiden. Mau yang klemar-klemer lagi? Mau yang sadis? Mau yang cuma janji? Mau yang hasratnya bikin dinasti aja?

Saya : ..... hening. (Mikir, cuma ngomong dalam hati, Ah iyaa, gak ada yang berjiwa pemimpin, gak ada lagi yang bisa kami jadikan panutan sebagai Bapak/Ibu Bangsa) we're screwed.

-keke