Beberapa hari kemarin baru saja menonton film "Pacific Rim". Genre film ini bisa dikategorikan dystopian, yaitu menggambarkan masa depan. Diceritakan dalam film tentang penumpasan Kaiju (kayak monster - monster yang menjadi lawannya ultraman sama power rangers) oleh Jaeger. Jaeger ini digerakkan oleh dua orang yaitu pilot dan co-pilot yang pikirannya dihubungkan.
Ada lagi "The Hunger Games" yang bercerita tentang adanya negara dengan membagi wilayahnya menjadi distrik - distrik yang memiliki sumber daya utama pada setiap distrik. Film yang diadaptasi dari novel dengan penjualan terbaik ini mengangkat cerita pertarungan antara wakil setiap distrik yang pada akhirnya hanya mengeluarkan satu pemenang (peserta saling membunuh satu sama lain).
Film "In Time" yang bercerita tentang masa hidup yang dibatasi oleh waktu. Secara genetik kehidupan manusia hanya dijatah selama 25 tahun dimana penunjuk waktu tertanam di lengan manusia (pakai lampu LED loh). Namun, semua aktifitas yang dilakukan bergantung pada waktu. Waktu layaknya uang di film ini, bekerja dengan upah waktu, dan jika melakukan aktifitas akan mengurangi waktu kita. Setelah waktu menunjukkan 00.00.00 maka manusia mati seketika. Selain uang, waktu juga diartikan sebagai kekuatan, waktu menjadi penentu siapa yang kaya dan siapa yang miskin.
Bayangkan kalo 10 tahun atau 20 tahun lagi kita harus bertempur lawan monster macam Kaiju, saling bunuh untuk dapat bertahan hidup kayak di The Hunger Games, atau hidup kita bergantung pada waktu. Malahan bisa - bisa hidup kita kayak apa yang diceritakan "Dr. Seuss : The Lorax" dimana nantinya bumi tidak memiliki pohon bahkan satu pun! Yang disebabkan oleh penebangan pohon yang menggila hanya demi keuntungan secara materi. Di film ini bahkan ada jasa isi ulang "udara bersih" :D
Imajinasi - imajinasi terkait apa yang akan terjadi di masa depan banyak sekali yang dituangkan dalam film. Kalo dilihat kondisi saat ini, bukan ga mungkin di masa depan kita tidak memiliki pohon lagi. Penebangan liar yang marak dilakukan menyebabkan persentase ruang terbuka hijau menipis. Oh, mungkin saja nanti akan pecah Perang Dunia ketiga melihat banyak sekali pemicu yang memungkinkan perang besar terjadi lagi.
Jika dilihat di negara kita sendiri, sederhananya mungkin yang akan terjadi adalah jarak antara si kaya dan si miskin yang semakin besar. Mungkin nanti kita melihat akan ada wilayah dengan teknologi yang maju dan ekonomi maju, dan ada bagian wilayah Indonesia lainnya yang masih terpuruk. Maraknya kasus korupsi, bisa juga nanti mengakibatkan krisis kepercayaan masyarakat terhadap pemimpin dan pejabat pemerintahan. Mungkin akan terjadi pemberontakan maha dahsyat dari masyarakat yang lelah oleh tipuan dan kebohongan. Alih - alih negara kita yang tercinta ini nantinya malah dijajah lagi atau diserahkan ke PBB.
Cerminan masa depan juga dapat terlihat dari perilaku moral anak - anak yang semakin menurun saat ini, anak - anak yang dimanjakan oleh teknologi. Kalau dulu, setiap melakukan percakapan dengan orang lain, yang terpenting adalah sikap hormat dengan lawan bicara artinya kita mendengarkan dengan baik apa yang dibicarakan oleh lawan bicara kita, namun saat ini manusia seperti black out jika sedang mengobrol, karena sibuk dengan gadget-nya. Cerita kita yang panjang lebar otomatis hanya mendapat respon "Hah?", "Oh", atau bahkan "..." Mungkin nantinya kita gak akan bisa mendengarkan suara manusia lagi, semua percakapan akan dilakukan melalui text message, chat, atau e-mail.
Perilaku lainnya yang terlihat adalah tidak adanya kepedulian antara satu sama lain, mungkin ini juga dipengaruhi oleh si teknologi ini (dan media ikut andil loh dalam degradasi moral). Bukan tidak mungkin pada nantinya tidak ada lagi yang memberikan tempat duduk bagi lansia di tempat umum. Atau bahkan tidak ada lagi tradisi "cium tangan" orangtua. Mungkin lagi, nantinya sekolah tidak diwajibkan untuk datang, karena pagi - pagi sekali bukan pakaian seragam sekolah yang dikenakan anak usia wajib belajar melainkan pakaian dan dilengkapi dandanan untuk menonton idola di stasiun TV. Apa yang terjadi di masa depan merupakan cerminan apa yang kita lakukan saat ini, jadi pintar - pintarlah bersikap.
-Keke
0 saran dan kritik:
Posting Komentar