Love is like a beautiful wound . .
Even though i see your pretty smile, i can’t smile with you, and only
smile at your happiness . .
Cinta ternyata memang ga harus
memiliki, di saat kita ingin sekali memilikinya. Mungkin klise, tapi buatku
memiliki cinta memang berat. Mencintai tidak mudah, apalagi dicintai. Bisa saja
salah satu kita dapatkan, tetapi pasti memiliki akhir yang tidak indah. Tapi
kadangkala kalau kita sabar untuk mencintai, harusnya bisa berakhir dengan
indah.
Pikiran gue penuh, gue harus bersikap
seperti apa, gue harus berpikir seperti apa, apa yang udah gue lakuin hari ini,
kenapa keegoisan gue harus menjadikan gue sendirian, kenapa gue mengijinkan dia
pergi. Saat gue bilang “Maaf,ini sepertinya jadi hari terakhir kita untuk barengan”,
dia hanya bisa menunduk dan pergi. Dipikiran gue cuma ada satu kata, ‘putus’,
bahkan kalau dia berbalik dan menangis, gue pun akan bilang tidak dan
menawarkan perpisahan. Gue pengecut, itu yang menyelimuti pikiran gue. Dulu,
untuk menggenggamnya gue butuh 1 tahun untuk mendapatkan cintanya, tapi disaat
gue sudah menggenggamnya, gue lepas dengan mudahnya dengan alasan ga bisa
memberikan kebahagiaan disampingnya, ga percaya diri untuk menjaganya, bisa
melakukan apa pun dengan baik walaupun dia tidak ada di samping untuk
memberikan dukungan, bahkan dengan alasan menawarkan kebahagiaan jika dia
menemukan cowok baru. Gue memang pengecut, saat gue mencintai gue pikir hanya
sepihak, saat gue mencintai gue ditinggal sendirian, sebenarnya hanya satu
kenyataannya, gue ga sanggup kalau dia yang harus memutuskan hubungan yang
sulit ini. Karena kalau itu sampai terjadi, perjuangan cinta gue jelas akan
sia-sia. Saat ini, dengan fotonya yang gue genggam, yang gue mau hanya merobek
separuhnya, seperti hubungan kita, gue robek separuhnya. “Gue mau ngelupain lo
dengan cara yang jantan, makanya gue robek foto lo”.
**
Sulit bernafas, aku takut untuk
percaya ini semua, sejujurnya aku ga mau mempercayainya. Karena ucapan pisah
selamanya hanya akan menyisakan rasa yang asing. “Maaf,ini sepertinya jadi hari
terakhir kita untuk barengan”, kalimat ini tidak terpikir ditujukan buat
aku. Bagaimana aku bisa percaya kamu,
saat kamu mengakhiri semuanya tanpa satu? Apa segitu sulitnya membuat satu
alasan untuk itu?. Aku gatau kenapa, aku tidak bisa bergerak, kakiku tidak mau
bergerak. Hari ini tidak seperti kenyataan. Apa kemarin aku berbuat salah? Di bagian
mana semuanya menjadi salah? Apa kemarin
aku lupa mengingatkanmu makan?
Aahh, aku ga bisa biarin kamu pergi, apa ini benar-benar menjadi akhir?. Kubuka kertas yang diberikan olehnya pada
hari terakhir kita bersama.
don’t love someone like me againdon’t make someone to miss again
one who looks at only you and needs only you
meet someone who loves you so much they can’t go a day without you.. please (let’s not)
0 saran dan kritik:
Posting Komentar