Kira - kira kalimat itulah yang disampaikan oleh dosen perencanaan transportasi saya beberapa tahun yang lalu. Hanya kata - kata itu yang membekas dari semua kuliah beliau hahaha. Mendengar Si Bapak mengatakan hal tersebut, saya rasanya ingin berteriak, "Bener banget Pak!!"
Saya adalah orang yang paling benci dengan kendaraan, lebih tepatnya benci pengendara haha. Bukan karena saya tidak punya kendaraan, tapi banyak alasan kenapa saya tidak suka dengan pengguna kendaraan pribadi. Apalagi pengemudi - pengemudi ibukota.
Lucunya, orang - orang yang mengeluh sama kemacetan di Jakarta adalah orang - orang yang membuat kemacetan itu sendiri. Bahkan mereka yang tidak berkompeten untuk membawa kendaraan pun ikut menyesakkan jalan - jalan Kota Macet tersebut (alias menggunakan SIM tembak). Terkadang penggiat jargon "go green" pun orang - orang yang bergantung hidupnya dengan kaleng mesin yang mengeluarkan kebulan asap racun. Apalah arti kampanye yang cuma menggurui orang lain.
Bayangkan, kalau saja hanya 80% penduduk di Jakarta menggunakan transportasi publik, kenyamanan kota seperti Tokyo dan Singapura mungkin sekali tercapai. Masalahnya, orang Indonesia itu anti capek dan mengeluarkan keringat. Tidak ketinggalan gengsi dan takut kulit hitam.
Masalah lainnya lagi adalah, karakternya yang jam karet. Karena terlalu sering menunda waktu jadi berangkat kantor dan sekolah terburu - buru, makin ramailah orang yang membeli kendaraan tercepat abad ini. Dan lagi selagi harga kendaraan ini murah, cicilan tanpa uang muka! Yap, tidak lain tidak bukan, kendaraan idaman semua umur, MOTOR! Ibarat di lautan, motor itu seperti ikan teri yang bergerombol, dan tidak terhitung. Alhasil yaaa macet lagi, macet lagi.
Mudahnya orang untuk membeli kendaraan di Indonesia adalah kesalahan terbesar untuk mengubah Indonesia menjadi lebih baik. Wacana baru untuk mobil murah yang baru - baru ini menjadi headline di media - media agaknya kurang tepat apabila dihadirkan di Indonesia. Entah siapa yang bodoh di negeri ini, penentu kebijakan yang ingin menambah kemacetan dan polusi atau masyarakat yang dengan egoisnya tergiur mobil murah dan secara tidak sadar ikut memadatkan jalanan. Yang jelas kita bodoh, disaat negara lain ingin bergotong royong menjaga lingkungan demi memperpanjang umur, negara kita jelas - jelas ingin mati di usia dini. Tidak ada empati di negeri ini yang memikirkan kehidupan masa depan, yang penting sekarang hidup mudah, makmur, makan enak, dan perut gendut!
(Berita tentang mobil murah) Tidak peduli kebijakan mobil murah untuk menghadapi persaingan bla bla bla, atau dengan alasan pro rakyat kecil, dan segala tetek bengek lainnya. Yang jelas kebijakan tersebut menurut saya tidak benar.
Terkadang saya kasihan dengan Jakarta, Jakarta tidak salah apa - apa tapi di-bully bahkan diejek karena kotanya yang tidak pernah jauh dari masalah yang sebenarnya juga itu - itu saja. Padahal, Jakarta macet karena warganya sendiri. Pemerintah sudah mengeluarkan dana untuk membangun transportasi publik sekelas busway dan ada jalur khususnya, tetapi jalur tersebut dilewati oleh kendaraan pribadi. Pemerintah membuat jalur sepeda, tetapi jalur tersebut dijadikan jalur bebas hambatan motor dan angkot. Ada trotoar yang kiranya nyaman untuk pejalan kaki, tiba - tiba bunyi klakson tanda disuruh menepi dari kendaraan yang menghindari macet.
Pernah suatu hari saya menanyakan sama seorang teman yang juga konsumen motor, "Gila ya, sekarang sampe jalanan kecil kayak gang aja gue lagi jalan aja diklakson suruh minggir. Parah jalanan besar sampai kecil didominasi motor". Teman saya itu dengan mudahnya menjawab, "Yaah gak gitu juga sih. Lagian yang jalan kaki dong harus sadar diri". Dan seketika otak saya berlabel ZONK. Yang bodoh dia atau saya?
(Berita tentang mobil murah) Tidak peduli kebijakan mobil murah untuk menghadapi persaingan bla bla bla, atau dengan alasan pro rakyat kecil, dan segala tetek bengek lainnya. Yang jelas kebijakan tersebut menurut saya tidak benar.
Terkadang saya kasihan dengan Jakarta, Jakarta tidak salah apa - apa tapi di-bully bahkan diejek karena kotanya yang tidak pernah jauh dari masalah yang sebenarnya juga itu - itu saja. Padahal, Jakarta macet karena warganya sendiri. Pemerintah sudah mengeluarkan dana untuk membangun transportasi publik sekelas busway dan ada jalur khususnya, tetapi jalur tersebut dilewati oleh kendaraan pribadi. Pemerintah membuat jalur sepeda, tetapi jalur tersebut dijadikan jalur bebas hambatan motor dan angkot. Ada trotoar yang kiranya nyaman untuk pejalan kaki, tiba - tiba bunyi klakson tanda disuruh menepi dari kendaraan yang menghindari macet.
Pernah suatu hari saya menanyakan sama seorang teman yang juga konsumen motor, "Gila ya, sekarang sampe jalanan kecil kayak gang aja gue lagi jalan aja diklakson suruh minggir. Parah jalanan besar sampai kecil didominasi motor". Teman saya itu dengan mudahnya menjawab, "Yaah gak gitu juga sih. Lagian yang jalan kaki dong harus sadar diri". Dan seketika otak saya berlabel ZONK. Yang bodoh dia atau saya?
![]() |
| Ini ilustrasi jalur sepeda yang ada di Montreal. Pengguna jalan tertib dan disiplin di jalur masing - masing (Sumber) |
![]() |
| Ini ilustrasi pengguna jalan bodoh yang marah kalau dibilang bodoh *apalagi ditilang, bisa ngamuk* (Sumber) |
Impian mengenai jalur sepeda saja sulit, bagaimana dengan impian kota ramah pejalan kaki. Bahkan New York, kota tersibuk di dunia dan pastinya dengan rata - rata pendapatan jauh diatas rata - rata pendapatan penduduk Jakarta adalah kota yang ramah untuk pejalan kaki. Karyawan baik swasta dan petugas sipil di Jepang pun seringkali menggunakan transportasi publik. Yaa, itulah kenapa Jepang dan New York bisa menjadi negara maju. Sikap kita pun masih jauh dibawah sikap warga Jepang dan New York. Haruskah saya pesimis dengan keadaan Kota Jakarta?
-Keke


0 saran dan kritik:
Posting Komentar