“Menurut kamu Indonesia itu apa?”
Pertanyaan ini dilontarkan begitu
saja oleh Si Warga Neptunus sekitar pukul 04.00 dini hari.
Pertanyaan yang
menimbulkan dua pertanyaan terhadap diri saya. Disatu sisi saya pikir
pertanyaannya garing! “Kenapa juga hal yang seperti ini harus dibahas, untuk
apa gunanya tiba-tiba nanya Indonesia itu apa”, pikir saya. Lain sisi, saya
berpikir, “Jawaban seperti apa yang harus saya sampaikan, saya tidak tahu
Indonesia itu apa, mau saya jawab Indonesia itu negara saya but that’s cliche, mau saya jawab negara
kesatuan tapi saya pun mempertanyakan jawaban itu”, dan saya akhirnya menyerah
dan bilang, “Aku gak tau”.
Si Warga Neptunus langsung
nyeletuk, “Ini nih yang salah dari orang Indonesia, bukan menyalahkan kamu tapi
yah inilah kenyataan jaman sekarang”.
Saya dan dia sempat terdiam, lalu
Si Warga Neptunus bilang, “Aku pun gak tau definisi Indonesia itu apa, jati
diri Indonesia itu apa, dari lahir kita pun gak pernah ditanamkan jati diri
Indonesia itu apa, bahkan pendidikan pun hanya menyampaikan sejarah, masa kelam
Indonesia.”
Setelah Si Warga Neptunus mengatakan hal tersebut yang
saya lakukan hanya mengangguk-anggukan kepala tanpa mengeluarkan satu kata
sampai ia bilang, “Ayo kita pikirin bareng, menurutmu Indonesia itu apa”.
Aku :
“Ah, gak tau deh bingung”
Si Warga Neptunus : “Mulai dari
aku yah, kalo kata orang-orang Indonesia itu Negara Kepulauan, tapi aku lebih
seneng menganggap Indonesia itu Negara Maritim”
Aku :
“Lah, kenapa?”
Si Warga Neptunus : “Lebih
keren aja kedengerannya”
Aku :
“Kalo menurut aku kekayaan budaya dan adat istiadat di Indonesia itu bukan hal
yang bagus, bukan berarti jelek. Kekayaan budaya itu kekurangan Indonesia,
karena di setiap daerah yang memiliki adat yang berbeda-beda, dimana karakter
orang pun beda-beda, dan untuk saat ini toleransi akan hal itu masih minim
banget. Dulu sampai sempat ada pemikiran cukup ekstrem, kenapa setiap pulau di
Indonesia tidak punya Presiden sendiri, mungkin akan lebih mudah mengaturnya,
toh saat ini masih aja kedengeran isu SARA di pemerintahan (yang menurutku ga
etis). Kalau memang kita belum menerima
perbedaan budaya, kenapa harus dibanggakan?”
Ya, hal-hal di atas itu beberapa
pemikiran gila kita tentang Indonesia, banyak sekali hal-hal yang kita bahas
walaupun hanya melalui media telepon genggam. Ada satu hal juga yang kita
berdua setujui bersama, kita menganggap bahwa “ Indonesia belum siap dengan
demokrasi”, “Indonesia butuh pemimpin”, “Indonesia masih bisa dan harus bisa
bangkit”.
Saya bilang ke Si Warga Neptunus,
kalau saya itu kaum pesimis dan saya hanya bisa mengkritik yang tidak
membangun, intinya saya mengeluh tentang kondisi di negeri ini tanpa
menghadirkan solusi, saya menyalahkan keadaan, saya bukan menyalahkan
Indonesia, saya menyalahkan dan menyayangkan orang-orang di dalamnya termasuk
saya sendiri. Si Warga Neptunus bilang, "Masih banyak kok yang indah, coba kamu pikir dari sisi lain".
Si Warga Neptunus bilang, “Indonesia
itu indah banget yah, sayang banget kalau ga dijaga, kita udah numpang hidup
disini tapi gak pernah memberikan timbal balik ke Indonesia, aku mau bawain
bunga deh buat Indonesia”. – kata-kata ini sukses buat saya senyam-senyum
sendiri.
Masih banyak sekali yang bisa
dipikirkan tentang Indonesia, “Gak ada habisnya”, kalau kata Si Warga Neptunus.
0 saran dan kritik:
Posting Komentar