Siapa yang tahu Indonesia itu apa?

Rabu, 27 Februari 2013


“Menurut kamu Indonesia itu apa?”


Pertanyaan ini dilontarkan begitu saja oleh Si Warga Neptunus sekitar pukul 04.00 dini hari. 
Pertanyaan yang menimbulkan dua pertanyaan terhadap diri saya. Disatu sisi saya pikir pertanyaannya garing! “Kenapa juga hal yang seperti ini harus dibahas, untuk apa gunanya tiba-tiba nanya Indonesia itu apa”, pikir saya. Lain sisi, saya berpikir, “Jawaban seperti apa yang harus saya sampaikan, saya tidak tahu Indonesia itu apa, mau saya jawab Indonesia itu negara saya but that’s cliche, mau saya jawab negara kesatuan tapi saya pun mempertanyakan jawaban itu”, dan saya akhirnya menyerah dan bilang, “Aku gak tau”. 

Si Warga Neptunus langsung nyeletuk, “Ini nih yang salah dari orang Indonesia, bukan menyalahkan kamu tapi yah inilah kenyataan jaman sekarang”.

Saya dan dia sempat terdiam, lalu Si Warga Neptunus bilang, “Aku pun gak tau definisi Indonesia itu apa, jati diri Indonesia itu apa, dari lahir kita pun gak pernah ditanamkan jati diri Indonesia itu apa, bahkan pendidikan pun hanya menyampaikan sejarah, masa kelam Indonesia.”

Setelah  Si Warga Neptunus mengatakan hal tersebut yang saya lakukan hanya mengangguk-anggukan kepala tanpa mengeluarkan satu kata sampai ia bilang, “Ayo kita pikirin bareng, menurutmu Indonesia itu apa”.

Aku                             : “Ah, gak tau deh bingung”

Si Warga Neptunus  : “Mulai dari aku yah, kalo kata orang-orang Indonesia itu Negara Kepulauan, tapi aku lebih seneng menganggap Indonesia itu Negara Maritim”

Aku                              : “Lah, kenapa?”

Si Warga Neptunus  : “Lebih keren aja kedengerannya”

Aku                           : “Kalo menurut aku kekayaan budaya dan adat istiadat di Indonesia itu bukan hal yang bagus, bukan berarti jelek. Kekayaan budaya itu kekurangan Indonesia, karena di setiap daerah yang memiliki adat yang berbeda-beda, dimana karakter orang pun beda-beda, dan untuk saat ini toleransi akan hal itu masih minim banget. Dulu sampai sempat ada pemikiran cukup ekstrem, kenapa setiap pulau di Indonesia tidak punya Presiden sendiri, mungkin akan lebih mudah mengaturnya, toh saat ini masih aja kedengeran isu SARA di pemerintahan (yang menurutku ga etis).  Kalau memang kita belum menerima perbedaan budaya, kenapa harus dibanggakan?”

Ya, hal-hal di atas itu beberapa pemikiran gila kita tentang Indonesia, banyak sekali hal-hal yang kita bahas walaupun hanya melalui media telepon genggam. Ada satu hal juga yang kita berdua setujui bersama, kita menganggap bahwa “ Indonesia belum siap dengan demokrasi”, “Indonesia butuh pemimpin”, “Indonesia masih bisa dan harus bisa bangkit”.

Saya bilang ke Si Warga Neptunus, kalau saya itu kaum pesimis dan saya hanya bisa mengkritik yang tidak membangun, intinya saya mengeluh tentang kondisi di negeri ini tanpa menghadirkan solusi, saya menyalahkan keadaan, saya bukan menyalahkan Indonesia, saya menyalahkan dan menyayangkan orang-orang di dalamnya termasuk saya sendiri. Si Warga Neptunus bilang, "Masih banyak kok yang indah, coba kamu pikir dari sisi lain".

Si Warga Neptunus bilang, “Indonesia itu indah banget yah, sayang banget kalau ga dijaga, kita udah numpang hidup disini tapi gak pernah memberikan timbal balik ke Indonesia, aku mau bawain bunga deh buat Indonesia”. – kata-kata ini sukses buat saya senyam-senyum sendiri.

Masih banyak sekali yang bisa dipikirkan tentang Indonesia, “Gak ada habisnya”, kalau kata Si Warga Neptunus. 

-Keke

0 saran dan kritik:

Posting Komentar